Karl Marx: Dinamika Kapitalisme dari Segi Filsafat, Sosiologi dan Ekonomi

Dalam karya Marx, masalah dinamika kapitalisme yang mengarah ke revolusi sosialis dibicarakan dari dua sudut: pertama dari segi filsafat dan sosiologi, dan kedua dari segi ekonomi. Dua garis argumentasi itu berdiri sendiri dan dikembangkan oleh Marx pada saat yang berbeda. Dari segi logika, analisis ekonomis menjadi dasar prediksi sosiologis dan argumentasi filosofis.

Menurut pandangan sejarah materialis, yang menjadi motor perkembangan masyarakat adalah ketegangan dalam bidang ekonomi, tepatnya dalam hubungan produksi, yaitu pertentangan kepentingan antara kelas-kelas bawah dan kelas-kelas atas, dan ketegangan itu sendiri ditentukan oleh perkembangan alat-alat produktif. Di satu pihak alat-alat kerja, keterampilan kaum buruh serta teknologi terus-menerus maju. Tetapi, di lain pihak, kelas-kelas atas tetap mencegah segala perubahan dalam struktur kekuasaan.

Karena ketegangan ini, ledakan revolusioner akhirnya tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, analisis sosiologis terhadap dinamika pertentangan antara proletariat dan kaum kapitalis mengandaikan analisis ekonomis tentang dinamika internal sistem produksi kapitalis. Dalam kenyataannya, pandangan sosiologis-filosofis Marx mendahului analisis faktor-faktor ekonomis. Sejak naskah-naskah Paris yang ditulis pada tahun 1844, Marx menyatakan dapat memastikan secara ilmiah bahwa kapitalisme mesti runtuh dan sosialisme merupakan hasil perkembangan sejarah yang tak terelakkan.

Tetapi buktinya, memang hanya dapat diberikan melalui analisis ekonomi kapitalisme. Jadi, sejak di Paris, Marx semakin intensif mempelajari para ahli ekonomi makro (ilmu yang waktu itu disebut “ekonomi politik”). Di London, sejak tahun 1849, Marx menyibukkan diri hampir secara eksklusif dalam studi dan analisis-analisis ekonomis. Sebagaimana kita ketahui, hasil studi itu adalah tiga jilid buku Das Kapital yang oleh Marxisme dianggap sebagai buku dasarnya[1].

Dalam tulisan-tulisan ini, Marx berbicara sebagai seorang ahli ekonomi: ia berusaha memperlihatkan bahwa cara produksi kapitalis dengan sendirinya mesti membawa kapitalisme kepada keruntuhannya sendiri. Jadi, analisis ekonomis tentang kapitalisme merupakan dasar pandangan Marx tentang keniscayaan revolusi sosialis dan pewujudan masyarakat komunis tanpa kelas.

Pandangan-pandangan yang dibicarakan dalam tulisan ini merupakan keyakinan atau “dogma” paling dasar Karl Marx dan seluruh Marxisme. Di sini termasuk penilaian bahwa kapitalisme adalah formasi sosial yang paling buruk; bahwa kapitalisme tidak dapat bertahan karena kontradiksi-kontradiksi internalnya; bahwa kontradiksi utamanya adalah kenyataan bahwa kapitalisme di satu pihak menciptakan proletariat sebagai sumber eksploitasi, padahal, dilain pihak proletariat ciptaan kapitalisme itu adalah kelas yang dengan niscaya akan mengubur kapitalisme; jadi proletariat dipanggil oleh sejarah untuk menumbangkan kapitalisme dan dengan demikian menghapus hak milik pribadi serta mendirikan masyarakat tanpa kelas di mana segala keterasingan akan berakhir dan umat manusia akhirnya mencapai kemerdekaannya[2].

Kapitalisme

Baca Juga:  Patologi Elektoral: Gelanggang Demokrasi Semu Lima Tahunan

Obsesi Marx adalah membuktikan “secara ilmiah” bahwa sosialisme merupakan hasil perkembangan sejarah yang niscaya, jadi bahwa kapitalisme, karena dinamikanya sendiri, menuju ke keruntuhannya. Tetapi, meskipun lawan besar Marx adalah kapitalisme dan borjuasi sebagai kelas yang menjadi pendukung kapitalisme, janganlah kita mengira bahwa Marx membenci borjuasi.

Sebaliknya, Marx sangat mengagumi prestasi-prestasi borjuasi, kelas yang mengembangkan kapitalisme. Dalam Manifesto Komunis, ia menulis: “Selama masa kekuasaannya yang baru seratus tahun, kelas borjuasi telah menciptakan tenaga-tenaga produktif yang lebih meluas dan lebih raksasa daripada yang telah diciptakan oleh semua generasi terdahulu sekaligus. Penguasaan kekuatan-kekuatan alam, mesin-mesin, penerapan ilmu kimia pada industri dan pertanian, pelayaran kapal uap, kereta api, telegraf listrik, pembukaan tanah beberapa benua untuk penggarapan, pelurusan sungai-sungai untuk dapat dilayari, pertambahan penduduk yang menakjubkan …” [Manifesto of Communist Party, 1848; Karl Marx/Friedrich Engels, 4, 467, 1956] “Industri besar telah menciptakan pasar dunia yang telah dipersiapkannya dengan penemuan Amerika. Pasar dunia telah mengembangkan perdagangan, pelayaran, dan per- hubungan di daratan secara luar biasa…” [Manifesto of Communist Party, 1848; Karl Marx/Friedrich Engels, 4, 463].

Marx tidak hanya mengagumi prestasi borjuasi, ia juga menilainya lebih jujur daripada feodalisme sebelumnya. Zaman feodal memang penuh dengan nilai-nilai suci dan luhur, dengan sikap dan adat seperti kerukunan, kegotongroyongan, dan penghormatan terhadap raja atau bangsawan, dengan tatanan sosial di mana kedudukan di atas dan di bawah dianggap sesuatu yang adiduniawi.

Padahal, itulah implikasi Marx, segala macam hubungan, tatanan, sikap, perasaan, upacara, dan norma feodal itu sebenarnya tidak lebih daripada selubung suci yang menutup-nutupi eksploitasi kelas-kelas feodal atas terhadap kelas-kelas bawah. Di belakang perasaan sungkan dan hormat masyarakat terhadap raja serta kepercayaannya akan kebaikannya tersembunyilah kerakusan kelas-kelas atas yang hidup dari pekerjaan rakyat. Nilai-nilai feodal tidak lebih dari selubung ideologis kenyataan bahwa masyarakat feodal adalah masyarakat berdasarkan pengisapan manusia atas manusia.

Borjuasi merobek selubung-selubung suci itu. Dengan terbuka borjuasi menempatkan laba sebagai nilai tertinggi. Semua hubungan dikembalikan kepada hakikatnya, hukum pasar. “Di mana borjuasi berkuasa, semua hubungan feodal, patriarkal, tradisional, dihancurkan. Tanpa belas kasihan, ia telah merobek ikatan-ikatan feodal berwarna-warni yang mengikat orang-orang pada atasan alami dan tidak meninggalkan ikatan antara manusia dan manusia selain kepentingan telanjang.. Dengan satu kata, ia menggantikan pengisapan yang ditutup-tutup oleh ilusi-ilusi religius dan politik dengan pengisapan terbuka, tak malu-malu, langsung, kering” [Manifesto of Communist Party, 1848; Karl Marx/Friedrich Engels, 4, 464 s.].

Apa kekhasan sistem ekonomi kapitalisme dibandingkan sistem produksi sebelumnya? Dari segi proses, kapitalisme adalah sistem ekonomi yang hanya mengakui satu hukum: hukum tawar-menawar di pasar. Jadi, kapitalisme adalah ekonomi yang bebas: bebas dari pelbagai pembatasan oleh raja dan penguasa lain (orang boleh membeli dan menjual barang di pasar mana pun), bebas dari pembatasan-pembatasan produksi (orang bebas mengerjakan dan memproduksikan apa pun yang dikehendaki-nya), bebas dari pembatasan tenaga kerja (orang boleh mencari pekerjaan di mana pun, ia tidak terikat pada desa atau tempat kerjanya). Yang menentukan adalah semata-mata keuntungan yang lebih besar.

Baca Juga:  Mubaligh: Optimalisasi Dakwah dan Sensitivitas “Peran(g) Ideologi”

Dari segi output, perbedaan kapitalisme dari sistem-sistem produksi lain adalah bahwa nilai yang ingin dihasilkan oleh para peserta pasar adalah nilai tukar dan bukan nilai pakai (yang akan diterangkan lebih lanjut dalam bab berikutnya). Maksudnya, orang memproduksi atau membeli sesuatu bukan karena ia mau menggunakannya, melainkan karena ia ingin menjualnya lagi dengan keuntungan setinggi mungkin.

Keuntungan itu sendiri mahapenting, karena hanya kalau laba cukup besar, se- orang usahawan akan bertahan dalam persaingan ketat dengan pengusaha lainnya. Secara sederhana, tujuan sistem ekonomi kapitalis adalah uang, dan bukan barang yang diproduksi. Barang hanyalah sarana untuk memperoleh uang. Makin banyak keuntungan sebuah perusahaan, makin kuat kedudukannya selanjutnya di pasar, dan sebaliknya. Itulah sebabnya borjuasi dalam analisis Marx secara terbuka menempatkan kepentingan egoistis, yaitu kepentingan untuk memperoleh keuntungan sendiri, sebagai nilai tertinggi.

Usaha untuk mencapai keuntungan semaksimal mungkin itulah yang mendorong borjuasi untuk menjelajahi semua benua dan melayari semua samudra. Secara historis, penemuan mesin uap dan perkembangan teknik selanjutnya sangat menentukan: dengan demikian keterbatasan energi dapat diatasi dan dinamika pertumbuhan ekonomi kapitalis mendapat sarana teknis yang dibutuhkannya. Dengan tersedianya energi secara hampir tak terbatas, apa pun yang menjanjikan keuntungan dapat diproduksi. Jadi, ekonomi modern betul-betul dapat tinggal landas.


[1] Marx sebenarnya menulis jauh lebih banyak dalam bidang ekonomi; tulisan-tulisan itu baru diterbitkan sesudah kematiannya oleh Karl Kautsky empat jilid “Theorien iüber den Mehrwert” [lih. Marx 1965]; di situ dalam juga termasuk jilid penting, setebal lebih dari 1000 halaman, “Grundrisse der Kritik der politischen Okonomie” yang ditulis oleh Marx sekitar tahun 1857-1958 dan baru diterbitkan di Moskow pada tahun 1939 [lih. Marx t.th.].

[2] Dalam uraian ini saya terutama mendasarkan diri pada The German Ideology (1845/46) dan Manifesto Komunis (1848) (tulisan lain yang dapat dibaca adalah Wage, Price, Profit (1865) dan Annotations to the programm of the German workers party (the Gotha programm) (1875)).

Mengeja Indonesia adalah sebuah gerakan yang otonom dan nirlaba, mengangkat isu-isu fundamental bangsa.
Situs Web https://mengeja.id
Posts created 16

Satu tanggapan pada “Karl Marx: Dinamika Kapitalisme dari Segi Filsafat, Sosiologi dan Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas